Bahaya Nikah Dini bagi Ibu dan Bayi

cybermap.co.id – Pernikahan dini masih menjadi masalah serius di berbagai daerah Indonesia. Meski terlihat sepele, dampaknya sangat besar, terutama bagi kesehatan ibu dan bayi. Dokter kandungan dr. Santi Putri menjelaskan bahwa kehamilan pada usia remaja membawa banyak risiko medis yang tak bisa diabaikan.

Remaja perempuan yang hamil cenderung belum siap secara fisik dan mental. Tubuh mereka belum berkembang sempurna untuk menjalani proses kehamilan dan persalinan. Hal ini meningkatkan risiko komplikasi seperti preeklamsia, anemia, kelahiran prematur, dan bayi berat lahir rendah.

“Rahim yang belum matang bisa menyulitkan proses persalinan dan berpotensi menyebabkan pendarahan hebat,” ujar dr. Santi. Ia juga menambahkan bahwa remaja sering kurang pengetahuan soal gizi dan perawatan kehamilan, yang semakin memperburuk kondisi ibu dan janin.

Tak hanya itu, bayi yang lahir dari ibu usia dini juga berisiko tinggi mengalami gangguan tumbuh kembang. Kekurangan nutrisi, perawatan pasca-persalinan yang tidak optimal, hingga akses terbatas ke layanan kesehatan membuat bayi rentan terhadap stunting dan penyakit infeksi.

Dari sisi psikologis, ibu muda rentan mengalami stres dan depresi pascamelahirkan. Minimnya dukungan emosional dan tekanan sosial membuat beban mental semakin berat.

Pernikahan sebaiknya dilakukan saat fisik dan mental sudah matang. Pemerintah dan masyarakat perlu terus mendorong pendidikan seks dan kesehatan reproduksi sejak dini. Pencegahan pernikahan dini bukan hanya soal angka, tapi menyangkut masa depan generasi bangsa.

Menunda pernikahan hingga usia matang bukan berarti menolak budaya, tapi demi menjaga hak dasar anak perempuan: hak untuk tumbuh sehat dan hidup layak.